Tampilkan postingan dengan label Menjawab Umkris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menjawab Umkris. Tampilkan semua postingan

Patrick Masuk Islam Setelah Debat Dengan Dr. Zakir Naik

Diposting oleh BreakEver on Rabu, 02 Maret 2016

DALAM sesi tanya jawab, Patrick bertanya kepada Dr. Zakir Naik:”Kenapa Muslim tidak percaya bahwa Yesus adalah anak tuhan,jika manusia lahir dengan keberadaan ayah dan ibu maka Dia (Yesus) lahir hanya dengan ibu saja, jadi kenapa dia tidak bisa disebut sebagai anak tuhan?”

Dr Zakir Naik menjawab :”Saudara Patrick, pertanyaan Anda sangat bagus, ini pertanyaan penting… Kami Muslim tidak ada persoalan apapun dengan proses kelahiran Yesus/Isa yang lahir dari rahim seorang wanita perawan…

“Jika saja Anda memperhatikan konteks di dalam Bibel, Anak Tuhan’ yang dimaksud bukanlah seperti yang Anda pahami..

Jika Anda membaca Bibel, di sana dikatakan Adam adalah anak tuhan, Efraim adalah anak tuhan, Yesus adalah anak tuhan..

‘Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, dijalan yang rata, dimana mereka tidak akan tersandung sebab Aku talah menjadi bapa israel. Efraim adalah anak sulungku,’ (Jeremia 31:9).

‘Anak Eros, anak Set, anak Adam, Anak Allah,’ (Lukas 3:38).

‘Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah,’ (Matius 5:9).

“Dan jika Anda melihat BAB Roma ayat 8 : ‘Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.’

“SAYA tidak ada masalah sama sekali dengan hal tersebut, namun hingga hari ini masih terjadi kesalahpahaman, Jika Anda menyebutkan semua manusia adalah anak tuhan (dipelihara oleh tuhan) saya tidak masalah.

“Saya akan mengutip satu ayat yang amat sangat penting bagi kristiani :

‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,’ (Yohanes 3:16).

“Jika Anda mengikuti sejarah Bibel, tidak kurang dari 50 pakar Bibel yang mengatakan bahwa ayat ini telah diubah, diganti, diedit, direvisi.

“Siapa yang mengatakan? Bukan Muslim. Bukan Hindu. Tapi para sarjana dan pakar sarjana Kristiani! Merekalah yang mengatakan bahwa ayat ini telah diubah, diganti, diedit, direvisi dan dirusak.

“Jadi, jika Anda mengatakan Yesus adalah anak tuhan seperti juga Adam, Efraim, saya tidak masalah…

“Masalahnya adalah ketika Anda mengatakan Yesus adalah satu-satunya anak tuhan padahal Alkitab tidak berkata seperti itu…

“Dan Al-Quran membela Yesus dalam surat Ali Imran Ayat 59: ‘Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.’

“Jadi jika Anda katakan bahwa Yesus adalah tuhan karena dia tidak memiliki ayah, Maka Adam adalah tuhan yang lebih hebat karena bukan saja tidak memiliki ayah namun juga tidak memiliki ibu!

“Jika Anda tidak keberatan dengan pernyataan saya, maka Anda harus mengakui bahwa Anda telah salah dalam memahami konteks ayat pada Bibel…”

Pada bagian ini Patrick pun bertepuk tangan karena kagum dengan jawaban Dr Zakir Naik. Di sesi akhir acara, Patrick mengucap dua kalimat syahadat di depan puluhan ribu audiens yang hadir.

Via: islampos.com
More about → Patrick Masuk Islam Setelah Debat Dengan Dr. Zakir Naik

Inilah Kebohongan Pendeta Saifuddin Ibrahim

Diposting oleh BreakEver on Minggu, 28 Februari 2016


Pendeta Saifuddin Ibrahim getol menyebarkan misi penyesatan agar umat Islam mengikuti jejaknya, murtad meninggalkan Islam menjadi pemeluk Kristen. Pendeta kelahiran Bima-NTB 26 Oktober 1965 itu merilis buku “Dialog Kristen–Islam” (Penerbit Amanat Agung Indonesia, Januari 2015).

Dalam Kata Pengantarnya pada alinea pertama, secara blak-blakan ia menantang bahwa buku ini ditulis dengan target khusus untuk umat Islam yang dia istilahkan sebagai “keturunan Ismael.”

Untuk menambah rasa percaya diri dalam meyakinkan pembaca, Pendeta Udin memamerkan sederet akademis sebelum menjadi pendeta: “Saya kuliah di Ushuluddin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kuliah Bahasa Arab, komunikasi, kuliah di STT jurusan Theologi. Bahasa kedua saya adalah bahasa Arab” (hlm 5).

Hanya orang bodoh saja yang percaya kepada bualan Pendeta Udin. Karena dibandingkan sederet latar belakang akademis yang dipamerkan itu, seluruh atraksi teologis dalam buku ini penuh dengan kesalahan yang tidak bisa ditolerir.

Udin mengaku pernah kuliah Bahasa Arab dan mengaku Bahasa Arab sebagai bahasa keduanya. Padahal Bahasa Arab yang dipamerkan dalam buku ini salah semua. Misalnya, ketika melecehkan syariat ibadah haji, Pendeta Udin menulis sebagai berikut:

“Naik haji hanya bagi yang mampu. Muhammad bersabda demikian, “Al-hajjum mabruurun laisa lahu illal jannah,” artinya: orang naik haji mabrur balasannya adalah surga.” Gak mampu ya gigit jari” (hlm. 10).

Weleh-weleh…. 
Dengan tulisan rendahan dan kacau balau seperti itu dia berani mengaku lulusan UMS yang menguasai Bahasa Arab? Umat Islam tidak semudah itu untuk dibohongi pendeta.

Jangankan santri pesantren atau sarjana Islam, siswa Madrasah Ibtidaiyah (SD) saja dengan mudah menilai bahwa tulisan Pendeta Udin itu salah dan ngawur.

Kalau Pendeta Udin benar-benar sarjana Islam yang menguasai bahasa Arab, mestinya kutipan hadits itu adalah seperti ini:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Saw  bersabda:“Haji yang mabrur tidak balasan baginya kecuali surga” (HR. Bukhari dan Muslim

Bila ditranselitrasikan, nas Arab yang benar dalam hadits itu adalah sebagai berikut: “Al-hajju al-mabruuru laisa lahu jazaa’un illa al-jannah” atau “Al-hajjul-mabruuru laisa lahu jazaa’un illal jannah.”

Menulis kata “al-hajju” dengan “al-hajjum” jelas memamerkan kebodohan bahasa. Karena kata nakirah (yang diawali dengan al tidak bisa ditanwin). Menulis “al-mabruuru” dengan “mabruurun” juga mempertegas kebodohannya, karena struktur kata ini adalah sebagai “na’at” yang harus memakai “al” dan tidak ditanwin, mengikuti (tabi’) kepada man’ut.

Menghilangkan kata “jazaa’un” dalam hadits tersebut semakin menambah daftar kebodohan Pendeta Udin, karena membuat terjemah hadits menjadi pincang.

Pendeta Udin tak layak mengaku-ngaku sebagai orang yang bisa berbahasa Arab. Bahasa yang dipamerkan itu bukanlah bahasa Arab yang benar, tapi bahasa orang sarap!

MURTADIN UDIN PENDETA PHP


Seluruh argumen kemurtadannya amatiran kelas awam, jauh dari nilai akademis seperti yang diklaimnya. Pendeta Udin memaparkan bahwa alasan pertama meninggalkan Islam adalah kewajiban shalat yang sangat memberatkan.

“Ibadahnya harus memakai bahasa Arab, yang tidak dimengerti oleh mereka sendiri. Mau praktik juga susah, orang Islam sendiri juga akan putus asa kalau mengikuti dengan taat. Mulai dari shalat? Orang Islam sendiri jarang yang shalat. Gak shalat masuk neraka, kalau shalat gak sempat… Dan ibadah yang paling sulit adalah shalat” (hlm. 9).

Alasan murtad dengan argumen shalat memberatkan sangat tidak ilmiah. Bagi umat Islam, shalat sama sekali tidak memberatkan bahkan menjadi identitas keimanan (An-Nisa 103) yang mengoneksikan diri kepada Allah (Qs Thaha 14) yang mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-’Ankabut 45).

Rasulullah Saw  menegaskan bahwa shalat adalah identitas keislaman, karena garis batas antara mukmin dan kafir: “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” (HR Muslim).

Shalat adalah tiket ke surga Firdaus (Al-Mu’minun 9-11), dan sebaliknya orang yang tidak shalat pasti masuk neraka Saqar (Al-Muddatstsir 42-43).

Ibadah shalat yang dilakukan kaum Muslimin adalah salah satu kehebatan Islam yang tidak dimiliki Kristen. Dengan mudah umat Islam bisa beribadah shalat meneladani tuntunan Nabi Muhammad Saw , karena ritualnya ditentukan secara tauqify baik gerakan, bacaan maupun syarat dan rukunnya.

Hal ini berbeda dengan umat Kristen yang tidak punya pegangan ibadah yang sesuai dengan teladan Yesus Kristus. Karena Alkitab (Bibel) baik Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama, sama sekali tidak mencatat ritual ibadah kristiani secara detil. Justru sebaliknya, apa yang diajarkan Yesus adalah ajaran nabi-nabi terdahulu, yaitu meng-Esa-kan Allah, jangan berbuat syirik, berwudlu dan bersujud.

Akibatnya, Pendeta Udin dan umat Kristen lainnya merekayasa sendiri ritual ibadah. Misalnya, merayakan Natal tanggal 25 Desember untuk memperingati kelahiran Yesus yang mereka anggap sebagai tuhan (hari ulang tahun kelahiran tuhan), padahal Bibel tidak pernah menyatakan Yesus lahir tanggal 25 Desember.

Dengan beribadah mengikuti Nabi Muhammad Saw , sesuai tuntunan Alquran  dan Sunnah, layak bila umat Islam mengharap ridha Allah dan surga-Nya.

Sementara Pendeta Udin yang mengklaim sebagai pengikut Yesus tapi tidak bisa beribadah sesuai tuntunan Yesus, berani mengklaim dirinya pasti masuk surga? Alquran  surat Al-Baqarah 111 menyebut surga orang seperti ini sebagai angan-angan kosong belaka (tilka amaniyyuhum).

Dengan kata lain, orang seperti Pendeta Udin ini adalah kaum php (pengobral harapan palsu)!!!

PENDETA UDIN BUTA SEJARAH 

Murtadin yang memiliki nama baptis Saifuddin Abraham ini menuduh Alquran  penuh dengan kontradiksi (pertentangan) ayat yang tidak bisa dijawab oleh para ulama maupun ahli tafsir Alquran . Ayat yang dituduh kontradiksi dengan sejarah itu adalah sebagai berikut:

“Alquran  mengandung cacat sejarah, geografis, doktrin bahkan secara gramatikal dan sebagainya. Contoh Alquran  melakukan kesalahan fatal, mengatakan Maryam itu ibu Yesus adalah Miryam saudara Harun, yaitu kakaknya Musa. Padahal masa antara harun dan Yesus itu 1.500 tahun... Alquran  melakukan kesalahan fatal dengan menyebut Miryam saudara Harun tertukar dalam Alquran  adalah Maryam ibu Yesus Kristus” (hlm. 21).

Asal tuduh, Pendeta Udin sama sekali tidak menyebut ayat Alquran  yang dimaksud. Tapi biarlah, penulis sudah hafal ayat yang dituduhkan, karena tuduhan ini sudah usang dan terlalu sering penulis dengar. Ayat yang dituduh keliru itu adalah sebagai berikut:
“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” (Qs. Maryam 27-28).

Para pendeta menganggap julukan/panggilan “Ya Ukhta Harun” (wahai saudara perempuan Harun) kepada Maryam adalah kesalahan fatal, karena jarak antara Maryam dengan Harun terpaut sekitar 1.500 tahun.

Dalam kitab-kitab tafsir terdapat beberapa pendapat tentang siapa Harun yang dimaksud dalam surat Maryam 28. Tafsir Al-Qurthubi merinci ada lima pendapat, dan yang paling kuat adalah pendapat Qatadah, bahwa pada waktu itu di kalangan bani Israel ada seorang abid (rahib) yang bernama Harun. Karena Maryam juga seorang abid (rahib) yang taat beribadah, maka dia biasa dipanggil sebagai "saudara Harun." Jadi, kalimat "Ya Ukhta Harun" pada surat Maryam itu berarti "Ya hadzihil mar’atus-shalihah." Pendapat yang kelima ini disepakati oleh tafsir Qurthubi, Ibnu Katsir dan Al-Jalalain.

Hal ini pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw . Beliau balik bertanya kepada penanya, “Apakah dia tidak mengetahui bahwa Bani Israil biasa menamakan anak-anak mereka menurut nama nabi-nabi dan wali-wali mereka?” (Ruhul-Bayan, jilid 6 hlm 16; Tafsir Ibnu Jarir, jilid 16 hlm 52).

Dalam tradisi semitik, sebutan anak (Arab=bin, Ibrani=ben), ibu (Arab=umm, Ibrani=ém) dan saudara (Arab=akhun, Ibrani=akh) tidak selamanya bermakna hakiki. Kata-kata ini sering dipakai dalam arti luas yang bermakna metafora (kiasan).

Dalam belasan ayat Bibel, Yesus disebut sebagai “Anak Daud” (Matius 1:1, 9:27, 21:9, 15:22, 20:30-31, 21:15, 22:42, Markus 10:47-48, 12:35, Lukas 18:38-39, 20:41), anak Daud adalah Nabi Sulaiman, bukan Yesus. Selain itu,  jarak waktu antara Yesus dengan Daud berselang 750 tahun dan Yesus tidak punya ayah kandung.

Julukan seseorang yang shalih biasa dinisbatkan kepada leluhurnya yang terkenal keshalihannya. Jika Nabi Isa boleh disebut sebagai anak Daud karena sama-sama shalih, maka Maryam pun boleh disebut sebagai “anak Musa,” karena keduanya satu jalur silsilah dan sama-sama shalih. Karena Nabi Musa punya saudara bernama Harun, maka otomatis Maryam boleh disebut “saudara perempuan Harun” dalam arti metafora, bukan denotatif.
More about → Inilah Kebohongan Pendeta Saifuddin Ibrahim

MALAIKAT JIBRIL; ESENSI DAN EKSISTENSI (Menjawab Umkris)

Diposting oleh BreakEver on Sabtu, 20 Februari 2016

Nabi Muhammad mewanti umatnya bahwa fitnah adalah hal yang lumrah di akhir zaman. Terlebih dengan semakin dekatnya waktu dajjal keluar dan menampakkan dirinya di hadapan manusia. Fitnah ini salah satunya bersifat memutar balikkan fakta. Nabi Muhammad saw memperingatkan bahwa surganya dajjal adalah nerakanya Allah, dan nerakanya Allah adalah surganya dajjal. Umat muslim diajarkan untuk selalu berdo'a dari fitnah akhir zaman ini di setiap sholatnya; "Allahumma inni a'uudzubika min 'adzaabil qobri wa min 'adzaabi jahannama wa min syarri fitnatil mahyaa wal mamaati wa min syarri fitnatil masiihi d dajjal." 

Salah satu bentuk fitnah akhir zaman adalah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, inilah yang kita bahas di sini. Saya membaca sebuah situs (yang sebenarnya merupakan situs absurd & penyebar fitnah), dalam situs tersebut, salah satu artikelnya mendiskreditkan eksistensi dan esensi Malaikat Jibril, hal ini sangatlah muhim dibahas karena mendiskreditkan Malaikat Jibril berarti juga mendiskreditkan Al-Qur'an dan Nabi Muhammad saw. Sebenarnya, menurut saya situs penebar fitnah tersebut mudah sekali dibantah bahkan, sebelum dibantah pun artikel-artikel fitnah di dalamnya sudah batal secara keyakinan mereka (para penulis) sendiri. Kenapa? Satu pertanyaan besar, bagaimana mungkin mereka mengutip ayat-ayat Al-Qur'an sedangkan mereka sendiri tidak mengimani Al-Qur'an. Namun, demi penjelasan, maka mari kita bantah fitnah mereka yang sangat ngawur tersebut. 

Dalam keyakinan umat Islam, Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama lebih dari 22 tahun. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu bukanlah secara langsung seperti Nabi Musa AS menerima Taurat, namun melalui seorang perantara, yaitu melalui Malaikat Jibril. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kali pada saat Nabi Muhammad SAW beribadah menyendiri dalam sebuah gua. Malaikat Jibril yang menjadi kunci utama penyampaian wahyu dianggap oleh misionaris Kristen sebagai satu-satunya yang mungkin menjadi jaminan apakah Al-Qur’an benar-benar firman Allah SWT. Hal pertama yang dipersoalkan oleh misionaris Kristen adalah keberadaan nama Ruhul Qudus dalam Al-Qur’an. Nama Ruhul Qudus dalam Al-Qur’an, ternyata adalah nama lain dari Malaikat Jibril, padahal dalam keyakinan agama Kristen, Roh Kudus diyakini sebagai pribadi Tuhan ketiga setelah Bapa dan Yesus. Kesamaan tugas Jibril dan Ruhul Qudus sebagai penyampai firman Allah SWT adalah bukti Ruhul Qudus adalah nama lain dari Malaikat Jibril, sebagaimana anda dapat baca dalam ayat-ayat dan Hadits Shahih di bawah ini;

Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 97)

Katakanlah: "Ruhul Qudus menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."  (An-Nahl: 102)

Dalam sebuah hadis Shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Wahai Hassan, cacilah kaum Musyrikin (dengan sya'irmu), sesungguhnya Jibril bersamamu atau Ruhul Qudus bersamamu.”

Di dalam Injil Kristen, terdapat ayat-ayat yang mengisahkan Malaikat Gabriel yang mendatangi Nabi Zakharia dan Maria kemudian memperkenalkan dirinya pada mereka. Hal tersebut kemudian seolah dijadikan syarat oleh misionaris Kristen, bahwa Malaikat Jibril harus datang dengan memperkenalkan diri kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana kedatangan Gabriel dalam Bibel Perjanjian Baru. Walaupun Malaikat Jibril tidak memperkenalkan diri kepada Nabi Muhammad SAW pada saat kali pertama bertemu, itu bukanlah sesuatu yang penting, karena Nabi Muhammad SAW dapat mengenalnya di kemudian hari melalui ilham yang Allah SWT pancarkan ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Lagi pula, tidak harus seorang Malaikat memperkenalkan namanya saat menemui seseorang. Contoh ayatnya ada banyak, tapi di sini saya akan berikan satu ayat saja, Coba sekarang anda baca Matius 1: 20, di mana ketika Yusuf mempertimbangkan akan menceraikan Maria, Yusuf bermimpi di datangi oleh seorang Malaikat yang mengatakan kepadanya; “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”.  apakah si Malaikat yang datang menemui Yusuf memperkenalkan dirinya? Tidak! Jika dalam Bibel Perjanjian Baru saja Malaikat tidak selalu menyebutkan nama saat menemui seseorang, bagaimana misionaris Kristen mau mempermasalahkan Malaikat Jibril yang tidak memperkenalkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW saat kali pertama bertemu?

Walaupun tidak dapat ditentukan dengan pasti sejak kapan Nabi Muhammad SAW mengetahui Malaikat yang menemuinya di gua  bernama Jibril. Namun dengan sangat meyakinkan, dengan melihat banyaknya kesamaan antara ajaran Nabi Muhammad SAW dan Nabi-nabi terdahulu, yang terdapat dalam Al-Qur’an atau pun dalam Bibel, dapat dipastikan, sosok yang menemui Nabi Muhammad SAW di gua Hira adalah Malaikat utusan Tuhan. Kesamaan ajaran yang saya maksud adalah ajaran tentang keesaan Tuhan, mengharamkan darah dan babi, puasa, sunat, tentang kiamat, dan masih banyak lagi ajaran Islam yang tidak dapat saya sebutkan di sini. Ketika telah diketahui dengan pasti yang menemui Nabi Muhammad adalah Malaikat utusan Tuhan, bukankah nama sudah bukan lagi sesuatu yang penting untuk diketahui?

Selain itu, Misionaris Kristen menyebut munculnya nama-nama lain Malaikat Jibril, seperti Namus, Ruh, Ruhul Qudus, Ruhul Al-Amin adalah karena kegamangan dan keragu-raguan Nabi Muhammad SAW terhadap sosok yang menjadi penyampai wahyu. Anggapan tersebut sama sekali tidak benar, karena bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW dapat dikatakan gamang dan ragu-ragu jika beliau sering kali menyebut nama Jibril di sepanjang hidupnya. Bermacam-macam sebutan untuk Malaikat Jibril sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh, karena dalam Islam bukan hanya Malaikat Jibril saja yang memiliki bermacam nama. Misalnya, Allah SWT memiliki 99 nama di antaranya: Rahman, Rahim, Malik, Quddus, Salam, dll. Al-Qur’an memiliki 20 nama lain, diantaranya: Kitab, Kalam, Nur, Hudan, Rahmah, dll. Nabi Muhammad SAW juga memiliki nama lain, yaitu: Ahmad, Qasim, ‘Aqib, dll.

Misionaris Kristen berkata bahwa Muhammad tidak mengenal dan tidak pernah menguji, siapakah ruh yang mencekiknya di Gua Hira. Dia merasa bingung apakah ruh itu berasal dari Tuhan atau setan. Sebab tidak memperkenalkan namanya, juga tidak menyapa Muhammad dengan nama. Berbeda dengan yang dilakukan Tuhan Yahwe ketika pertama kali menyapa Musa, Zakharia dan Maria. Masing-masing disapa dengan namanya, sebagai bukti Tuhan Maha-tahu. Sebaliknya, ruh di Gua Hira itu hanya mencekik dan memaksa Muhammad dengan seruan “Iqra” (bacalah!). Bukankah ruh jahat juga dapat berbuat hal yang persis sama, mencekik dan menteror targetnya, bahkan lebih?

Kapan Nabi Muhammad SAW merasa bingung apakah ruh yang menemuinya berasal dari Tuhan atau setan? Jika Nabi kembali ke rumah dengan rasa gelisah dan ketakutan itu wajar, karena peristiwa itu adalah kali pertama Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Malaikat. Bukankah ketika pertama kali Zakharia bertemu dengan Malaikat Tuhan juga merasa terkejut dan ketakutan (Lukas 1: 11-12)? Dan apakah cukup hanya dengan tahu nama penyampai wahyu, seorang Nabi dapat yakin bahwa ruh itu berasal dari Tuhan? Bukankah menurut Paulus Iblis dapat menyamar menjadi Malaikat terang (2 Korintus 11:14)? Apalagi cuma ngaku-ngaku dengan menyebut nama, itu jauh lebih mudah. Nabi Muhammad SAW dikatakan oleh Misionaris Kristen tidak pernah menguji ruh yang datang kepadanya. Pertanyaan saya, apakah Maria, Zakharia dan seluruh Nabi-nabi yang pernah muncul namanya dalam Bibel pernah menguji ruh yang datang pada mereka? Sepanjang pengetahuan saya, Maria, Zakharia dan seluruh Nabi-nabi dalam Bibel juga tidak pernah menguji ruh yang datang pada mereka. Mereka hanya menerima saja pengakuan ruh tersebut dan tidak tidak ada usaha untuk mengujinya. Misionaris Kristen menyebut bahwa Malaikat Jibril mencekik dan memaksa Nabi Muhammad SAW, ini tidak benar! Saya tidak pernah menemukan dalam hadis-hadits sahih Nabi Muhammad SAW di cekik dan dipaksa Malaikat Jibril untuk mengikuti ucapannya, sumber yang digunakan Misionaris berasal dari hadis-hadits palsu yang terdapat pada situs-situs penghujat Islam.

Bohong besar jika Misionaris Kristen mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengenal nama Malaikat penyampai wahyu selama beliau SAW tinggal di Mekkah dan baru mengetahuinya setelah hijrah ke Madinah. Nabi Muhammad SAW telah mengenal nama Malaikat yang menyampaikan wahyu ketika Nabi berada di Mekkah, buktinya dapat anda baca pada hadis sahih dibawah ini;

Telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas bin Malik ia berkata; Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang duduk sedih berlumuran darah disebabkan perlakuan orang-orang kafir Quraisy Makkah, lalu jibril berkata: wahai Rasulullah apakah baginda ingin saya perlihatkan tanda (kekuasaan Subhanahu wa Ta'ala) Rasul menjawab: 'ya': lalu beliau melihat sebuah pohon di belakangnya, jibril mengatakan: panggillah pohon tersebut, maka beliau memanggilnya dan pohon itu datang serta berdiri di hadapan beliau, kemudian Jibril berkata: "Perintahkan untuk kembali". Maka beliau memerintahkannya untuk kembali dan pohon itupun kembali (ke tempat asalnya) Rasulullah berkata: cukup-cukup. (Darimi: 23)

Misionaris Kristen tidak bersedia menerima sumber Hadits Shahih yang banyak memuat nama Malaikat Jibril dengan beralasan bahwa Hadits adalah tambahan setelah Al-Qur’an yang muncul 200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Namun anehnya, Misionaris Kristen dapat menerima Hadits palsu yang meriwayatkan Malaikat Jibril mencekik dan memaksa Nabi Muhammad SAW untuk menirukan ucapannya.  

Menjawab Pertanyaan

Jibril dan Gabriel apakah sama?

Gabriel adalah nama dari Malaikat yang pernah mendatangi Nabi Zakharia, Maryam atau Maria untuk menyampaikan firman Allah tentang kelahiran Yohanes pembaptis dan Isa AS atau Yesus. Sedangkan Jibril adalah nama Malaikat yang menyampaikan firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Melihat tugas Jibril dan Gabriel yang sama, yaitu sebagai penyampai wahyu, saya berkesimpulan bahwa Jibril dan Gabriel adalah nama dari Malaikat yang sama.   

Benarkah Jibril itu Rohul qudus? Sementara Gabriel dalam Alkitab bukan Roh Kudus?

Saya berpendapat Jibril dalam Al-Qur’an dan Gabriel dalam Bibel adalah Malaikat yang sama, hanya berbeda sedikit dalam pengejaan nama. Oleh karena Jibril dan Gabriel adalah sama, maka Gabriel yang di sebut dalam Bibel adalah juga Roh Kudus, itu pendapat saya, tentu berbeda dengan pendapat umat Kristen.

Mengapa Al-Quran diwahyukan pada Muhammad harus memakai perantara Jibril? Sebelumnya, bukankah Tuhan bersabda secara langsung pada para nabi-Nya?

Allah SWT berbicara dengan manusia dengan jalan wahyu, dibalik tabir, mengutus seorang Malaikat (Asy Syuura: 51) dan lewat jalan mimpi (Ash Shaaffaat: 102-105).

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy Syuura: 51)
[1347]. Di belakang tabir artinya ialah seorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya seperti yang terjadi kepada Nabi Musa a.s.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapat mu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (Ash Shaaffaat: 102-105).
[1284]. Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksanakannya.

Pengutusan Malaikat untuk menyampaikan firman Tuhan kepada para Nabi, juga akan anda temukan dalam Bibel Perjanjian Lama jika anda membacanya dengan teliti. Misalnya ketika Malaikat Tuhan menghalau Bileam bin Beor yang hendak mengutuk bangsa Israel yang telah diberkati Tuhan. Bileam bin Beor yang memukul keledainya, ditegur oleh Tuhan melalui firman-Nya yang disampaikan oleh malaikat;

Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: "Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan. (Bilangan 22:32)

Malaikat Tuhan juga pernah menjadi penyampai firman kepada seorang Nabi bernama Gideon, yang dalam firman tersebut Nabi Gideon diajarkan untuk melakukan persembahan kepada Tuhan;

Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: "Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya." Maka diperbuatnya demikian. (Hakim-Hakim 6:20)    

Malaikat juga pernah menemui Elia untuk menyampaikan firman Tuhan untuk segera menemui utusan-utusan raja Samaria dan mengatakan seperti yang diperintahkan Tuhan;

Tetapi berfirmanlah Malaikat TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: "Bangunlah, berangkatlah menemui utusan-utusan raja Samaria dan katakan kepada mereka: Apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga kamu ini pergi untuk meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron? (2 Raja-Raja 1:3)

Masih banyak sekali ayat-ayat seperti di atas akan anda temukan terdapat dalam Bibel Perjanjian Lama. Jadi, sangat bodoh sekali misionaris Kristen apabila mengatakan Tuhan hanya berfirman secara langsung kepada para Nabi dan tidak pernah mengutus Malaikat untuk menyampaikan firman-Nya.

Kita membaca, Isa Al-Masih yang dikandung dari Kalimat dan Roh Allah senantiasa diperkuat  Rohul qudus / Jibril (Qs 4:171; 5:110). Sedangkan Nabi Yahya semasa bersama Isa Al-Masih tentu juga diwahyui Roh Jibril yang sama.  Jadi, apakah Jibril bisa berada dalam Isa dan Yahya sekaligus?

Nabi Yahya AS memang hidup semasa dengan Nabi Isa AS, tapi jangan lupa, wilayah dakwah mereka hanya terbatas di daerah Yerusalem dan sekitarnya. Teramat mudah bagi Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada ke dua Nabi tersebut di waktu yang hampir bersamaan. Ini di sebabkan karena Malaikat Jibril memiliki kemampuan untuk menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu sangat cepat. Bayangkan, Malaikat Jibril apabila naik menghadap Allah SWT hanya butuh waktu satu hari, satu hari tersebut kadarnya sama dengan lima puluh ribu tahun bagi manusia, sebagaimana anda dapat baca pada ayat di bawah ini;

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.[1510] (Al Ma´aarij: 4)
[1510]. Maksudnya: malaikat-malaikat dan Jibril jika menghadap Tuhan memakan waktu satu hari. Apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu limapuluh ribu tahun.

Maryam, ketika sedang mengandung Isa dalam rahimnya (keduanya disertai Roh Allah / Rohulqudus / Jibril) masih dikunjungi oleh “Jibril lain” yang berseru kepadanya dari luar rahimnya, yaitu “dari tempat yang rendah” (Qs 19:24).
Jadi Jibril mana lagi yang bisa sekaligus ada di dalam dan di luar rahim Maryam, juga sekaligus berada dalam Isa dan Yahya?

Jibril di dalam rahim Maryam? Jibril tidak pernah berada di dalam rahim Maryam. Jibril hanya bertugas menyampaikan berita gembira kepada Maryam bahwa dirinya akan memperoleh anak dan kemudian meniupkan ruh kepada Maryam yang membuatnya hamil. Kemungkinan besar misionaris Kristen keliru memahami firman Allah SWT yang ada di surah Al Anbiyaa': 91 atau At Tahrim: 12, yang menyebut Allah SWT meniupkan ruh. Misionaris mengira, ruh yang ditiupkan tersebut adalah Malaikat Jibril. Padahal, ruh yang di maksud adalah ruh biasa, ruh sebagaimana yang ada pada diri manusia. 


Ayat-ayat Qur’an yang dipermasalahkan

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al Israa': 85)

Ayat di atas diturunkan terkait pertanyaan sekelompok orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW tentang ruh. Tetapi ruh yang dimaksud atau yang ditanyakan oleh sekelompok orang Yahudi pada ayat di atas bukanlah ruh dalam pengertian Malaikat, namun ruh yang dimaksud adalah arwah anak cucu Adam. Karena jika yang dimaksud oleh sekelompok orang Yahudi adalah Malaikat, Allah SWT tidak akan menurunkan ayat dengan kalimat;“Roh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”, Tapi bisa dijelaskan dengan lebih gamblang seperti pada ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menjelaskan tentang Malaikat atau dijelaskan penciptaan Malaikat seperti dalam Hadits dibawah;

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' dan Abdu bin Humaid, berkata Abdu: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi' berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian." (Muslim: 5314)

Jadi sangat salah apabila ayat di atas di anggap oleh Misionaris Kristen sebagai cara Nabi Muhammad SAW menutupi ketidakpastian tentang ruh yang menemui Nabi untuk menyampaikan wahyu.

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, (Al-Hajj: 52-53)

Tuduhan adanya ayat-ayat setan dalam Al-Qur’an sudah sangat sering dituduhkan dan pihak Muslim telah banyak memberikan jawaban. Oleh karena itu, saya hanya akan menjawabnya dengan memberikan Link yang dapat menjadi sanggahan, bisa anda baca di sini atau di sini

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Yunus: 94)

Pada ayat di atas Nabi Muhammad SAW disarankan agar bertanya kepada Ahli Kitab tentang kisah Bani Israel yang diwahyukan Allah SWT kepadanya jika Nabi ragu-ragu. Namun, Nabi Muhammad SAW tidak pernah tidak pernah ragu-ragu dan oleh karenanya tidak pernah bertanya kepada Ahli Kitab. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Qatadah bin Di’amah yang berkata, telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku tidak ragu dan aku tidak bertanya.”

Menguji Roh? Caranya?

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh anti kristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. (1Yohanes 4:1-3)

Bibel Perjanjian Baru menghendaki untuk menguji Roh, apakah ia berasal dari Allah ataukah tidak. Bahan uji yang digunakan adalah dengan melihat apakah Roh tersebut mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah. Roh yang datang dan tidak mengaku Yesus tidak berasal dari Allah bukanlah dari Allah. Dipahami seperti apapun kata “Roh” yang dimaksud 1Yohanes 4:1-3, sebagai Malaikat atau Nabi, sudah seharusnya umat Kristen tidak lagi ragu atas kebenaran kenabian Muhammad SAW, karena Al-Qur’an yang diturunkan melalui Malaikat Jibril telah mengakui bahwa Isa AS adalah benar datang dari Allah SWT, sebagai Nabi Allah SWT dan Rasul Bani Israel. Anda akan banyak menemukan bukti pengakuan Al-Qur’an bahwa Isa AS adalah Nabi dan Rasul Allah SWT, sebagaimana sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang saya kutip di dibawah ini:

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (Ali ‘Imran: 45)

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." (Ali ‘Imran: 84)

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail (Az Zukhruf: 43)

Kesimpulan

Misionaris Kristen hendak membuat ragu hati umat Islam dengan menyatakan bahwa mungkin sekali yang menemui Nabi Muhammad SAW  di gua Hira bukanlah Malaikat Jibril. Argumentasi yang misionaris gunakan adalah berkisar tentang nama Jibril yang tidak diketahui namanya oleh Nabi Muhammad SAW  di awal penyampaian wahyu. Argumentasi Misionaris Kristen tersebut saya nilai cacat. Cacat karena bagaimana mungkin kita meyakini suatu Roh datang dari Tuhan hanya karena mengaku namanya Jibril? Bagaimana kita tahu pengakuannya adalah benar? Umat Islam meyakini Roh yang mendatangi Nabi Muhammad SAW di gua Hira adalah utusan Tuhan bukan dengan penyebutan nama, melainkan dengan melihat ajaran yang disampaikan Roh tersebut ternyata tidak bertentangan dengan ajaran para Nabi, baik para Nabi yang ada dalam Al-Qur’an atau pun para Nabi yang ada dalam Taurat, bahkan tidak sedikit ajarannya yang berkesesuaian dengan ajaran para Nabi, itulah cara uji umat Islam.

Dengan standar yang sama, umat Kristen menerima pengakuan Paulus bahwa dirinya bertemu dengan Yesus ketika bersama teman-temannya hendak ke Yerusalem, hanya dengan sebuah pengakuan oleh sosok yang mengatakan dirinya Yesus, Paulus melenggang dengan bebas masuk dalam jajaran para Rasul. Padahal, apa yang diajarankan oleh Paulus yang dikatakannya dari sosok Yesus yang dijumpainya, sangat jauh berbeda dengan ajaran Yesus sebelum terangkat ke Surga. Yesus tidak mengabarkan Injil di luar bangsa Israel tetapi Paulus mengajarkan Injil ke luar bangsa Israel, Yesus mengajarkan untuk menjalankan hukum Taurat sementara itu Paulus justru meninggalkan hukum Taurat, dll. Standar umat Kristen tersebut tanpa disadari, telah merusak ajaran asli Yesus Kristus.  
More about → MALAIKAT JIBRIL; ESENSI DAN EKSISTENSI (Menjawab Umkris)

Menjawab Umkris : Bumi Datar?

Diposting oleh BreakEver on Rabu, 20 Januari 2016

Menjawab Tuduhan Umkris Bahwa Allah Menciptakan Bumi Datar : Quran & SAINS

Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah berkaitan dengan anggapan bahwa menurut Alqur’an bumi itu datar. Berikut ini dalil Alqur’an yang biasa mereka pakai:
DALIL PERTAMA:
firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr: 19, “Dan Kami (Allah) telah menghamparkan bumi….”. Nah lihatlah, kata mereka, bukankah ayat ini dengan gamblang telah menjelaskan bahwa bumi itu terhampar, dan tidak dikatakan bulat…! Kemudian mereka pun dengan enteng mengkafirkan semua orang yang berseberangan faham dengan mereka.
DALIL KEDUA:
adalah firman Allah pada surat Al-Baqarah: 22, “Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan (firasy) bagimu.”
DALIL KETIGA:
adalah firman Allah pada surat Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”
DALIL KEEMPAT:
adalah firman Allah pada surat An-Naba 78: 6-7,  “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?
DALIL KELIMA
adalah firman Allah pada surat Al-Ghasyiyah : 20, “Dan bumi bagaimana dihamparkan ?”
Memang secara tekstual, bunyi ayat-ayat di atas mengatakan bahwa bumi ini terhampar, seumpama firasy, karpet, atau tempat tidur. Namun, apakah sesederhana itu sajakah memahamkan ayat Al-Qur’an….? Apakah memahamkan al-Qur’an yang agung cukup secara tekstual saja, kemudian mengabaikan arti kontekstualnya…? Kalau demikian, yakni Al-Qur’an hanya difahamkan secara tekstual saja, maka pasti akan hilanglah kehebatan dan keagungan Al-Qur’an itu. Padahal ada banyak ayat suci Al-Qur’an dan hadis yang mendudukkan derajat orang-orang berpengetahuan berada beberapa tingkat di atas orang awam. Dalam hal ini, pemahaman kontekstual jelas memerlukan daya nalar yang lebih tinggi dibandingkan sekedar pemahaman tekstual saja. Dengan demikian, pantaslah kiranya jika Allah dalam Al-Qur’an dan Nabi dalam banyak hadis beliau, memuji dan menyatakan bahwa orang yang berilmu pengetahuan, yang memakai akal dan nalar, memiliki derajat yang tinggi jauh berbeda dengan orang awam.
PEMBAHASAN MASALAH
Pada surat Al-Hijr ayat 19 dikatakan bahwa Allah telah menghamparkan bumi. Disitu tidak ada dikatakan bagian yang dihamparkan adalah bagian bumi tertentu, tetapi yang terhampar adalah bumi secara mutlak. Sehingga dengan demikian, jika kita berada di suatu tempat di bagian manapun dari pada bumi itu (selatan, barat, utara, dan timur), maka kita akan melihat bahwa bumi itu datar saja, SEOLAH-OLAH TERHAMPAR di hadapan kita. Kemudian jika kita berjalan dan terus berjalan dengan mengikuti satu arah yang tetap, maka bumi itu akan terus menerus kita dapati terhampar di hadapan kita sampai suatu saat kita kembali ke tempat semula saat awal berjalan. Hal ini telah jelas membuktikan bahwa justru bumi itu bulat adanya. Sebaliknya, jika saja bumi itu berbentuk kubus, misalnya, maka pasti hamparan itu suatu saat akan terpotong, dan kita akan menuruni suatu bagian yang menjurang, menurun, TIDAK LAGI TERHAMPAR…..!
Selanjutnya, jika bumi itu adalah sebuah hamparan seperti karpet atau tikar, maka jika ada orang yang melakukan perjalanan lurus satu arah secara terus menerus, maka orang itu pada akhir perjalanannya akan sampai pada ujung bumi yang terpotong, dan tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula, di mana dia memulai perjalanannya yang pertama dulu. Penelitian dan pengalaman manusia telah membuktikan bahwa perjalanan yang dilakukan secara terus menerus ke satu arah tertentu tidak pernah menemukan ujung dunia yang terpotong, melainkan terus menerus yang ditemukan hanyalah hamparan demi hamparan di tanah yang dilalui, untuk kemudian perjalanan itu berakhir pada tempat semula saat perjalanan pertama dimulai. Hal ini tidak mungkin dapat terjadi jika saja bumi itu tidak bulat keberadaannya.
Penjelasan yang lebih gamblang adalah pada surat Al-Baqarah ayat 22: “ Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi itu firasy (hamparan, kapet) BAGIMU ……” Perhatikan kata-kata “bagimu”. Al-Qur’an dalam hal ini, tidak sekedar mengatakan bahwa bumi itu hamparan umpama karpet saja, kemudian berhenti pada kalimat itu, tapi ada kata tambahan lain yaitu “bagimu”. Artinya, bagi kita manusia yang tinggal di atas permukaan bumi ini, bumi terasa datar. Walaupun, bumi itu pada kenyataannya adalah tidak datar. Hanya TERASA DATAR bagi kita manusia. Terasa datar bukan berarti benar-benar datar, bukan….?
Penjelasan kata “karpet (firasy)” bagimu bukankah bisa diartikan sebagai sesuatu yang berfungsi untuk diduduki atau dipakai tidur, dengan aman dan nyaman…?. Kata firasy dalam bahasa Indonesia dapat diartikan karpet, atau ranjang adalah sesuatu yang nyaman dan aman dan dipakai untuk tidur. Nampaknya arti seperti ini dapat dipakai, sebab keberadaan struktur bumi ini memang berlapis-lapis. Bagian intinya sangat panas dengan suhu ribuan derajat celcius yang mematikan. Namun demikian, pada bagian LAPISAN YANG PALING ATAS, ada sebuah lapisan keras setebal 70 kilometer, disebut lapisan kerak bumi yang paling aman dan nyaman, dengan suhu yang aman pula bagi kehidupan. Seolah-olah lapisan bumi bagian atas itu adalah ‘karpet’ atau ‘ranjang’ yang terbentang luas dan melindungi manusia serta seluruh makhluk Allah yang berada di atasnya, aman dari bahaya lapisan bumi bagian dalam yang cair, yang sangat panas lagi mematikan itu.
Kemudian dalam QS.Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”
Perhatikan gambaran bumi dalam ayat lainnya:
waal-ardha ba’da dzaalika dahaahaa
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
tejemahan bahasa Indonesia kembali menyaakan kata ini dengan ‘hamparan’.
Lalu ketika Al-Qur’an menyebut kata ‘al-ardha‘ atau ‘al-ardhi‘ yang diterjemahkan menjadi ‘bumi’, bisa juga merujuk kepada ‘permukaan bumi’ atau lapisan bumi paling luar tempat kita berpijak, lihat ayat ini :
walakum fii al-ardhi mustaqarrun wamataa’un ilaa hiinin
[2:36] dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
wa-idzaa tawallaa sa’aa fii al-ardhi liyufsida fiihaa wayuhlika alhartsa waalnnasla waallaahu laa yuhibbu alfasaada
[2:205] Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan
Ayat-ayat tersebut merupakan sinyal-sinyal ilmiah dari Al-Qur’an tentang proses pembentukan kulit bumi, tempat kita berpijak, disitu ada indikasi terjadinya proses yang berangsur-angsur, mulai dari sedikit lalu meluas menjadi seperti permukaan bumi yang ada sekarang, ibarat orang menggelar/menghamparkan permadani..
Kata ‘farsya’ juga diartikan sebagian para ulama dengan ‘alas’ atau ‘tunggangan’. Sebagian ulama tafsir mengartikan sebagai ‘yang disembelih’, dalam hal ini adalah terkait dengan kambing, domba dan sapi (lihat Tafsir Al-Mishbah – Quraish Shihab). Ini menjelaskan bahwa hewan yang diembelih tersebut bisa dimanfaatkan, misalnya kulitnya sebagai alas untuk tempat duduk.
wamina al-an’aami hamuulatan wafarsyan
[6:142] Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih.
Ini dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an yang lain :
waallaahu ja’ala lakum min buyuutikum sakanan waja’ala lakum min juluudi al-an’aami buyuutan tastakhiffuunahaa yawma zha’nikum wayawma iqaamatikum wamin ashwaafihaa wa-awbaarihaa wa-asy’aarihaa atsaatsan wamataa’an ilaa hiinin
[16:80] Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).
Maka lagi-lagi kata ‘farasy’ dalam ayat tersebut tidak mengandung unsur ‘datar’ melainkan ‘alas tempat duduk’. Tentu saja suatu yang dihamparkan/digelar/dibentangkan akan membentuk sesuai tempat dimana dia dihamparkan, hamparan akan berbentuk melengkung kalau dasar tempatnya juga melengkung, hamparan akan berbentuk datar kalau dasar tempatnya juga datar..
Kata tersebut juga dipakai dalam ayat lain :
muttaki-iina ‘alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wajanaa aljannatayni daanin
[55:54] Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.
wafurusyin marfuu’atin
[56:34] dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
Ayat tersebut juga tidak menyinggung tentang suatu bidang yang datar, tapi mengenai suatu benda yang ‘dibentangkan‘ untuk tempat duduk-duduk atau istirahat.
al’farasyi’ dalam ayat ini diartikan sebagai ‘anai-anai/laron’ yang baru lahir sehingga posisi mereka bertumpuk-tumpuk bergerak makin lama makin meluas, maka kata ini diikuti dengan ‘al-mabtsuutsi’ = bertebaran, menyebar makin lama makin luas, dalam kalimat ini juga tidak ada korelasi antara kata ‘faraasyi’ dengan datar, melainkan menjelaskan sesuatu yang berkembang meluas. Bisa dilihat dalam ayat ini :
yawma yakuunu alnnaasu kaalfaraasyi almabtsuutsi
[101:4] Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,


Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
QS 2:22
alladzii ja’ala lakumu al-ardha firaasyan
[2:22] Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu
Farasya = ‘fa-ra-syin’
Kata tersebut berasal dari kata ‘farasya’ yang berarti : to spread out, extend, stretch forth, furnish = menghampar, mempunyai kata turunan : furusy (berbentuk jamak, bentuk tunggalnya :firasy). Kata ‘firasy’ berarti : hamparan yang biasanya digunakan untuk duduk atau berbaring. Dari situ kata tersebut juga bisa diartikan : permadani, kasur atau ranjang. Dalam kalimat ini tidak ada kaitan sesuatu yang terhampar dengan ‘datar’.
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa bumi yang kita tempati ini berbentuk bulat menurut kesepakatan para ulama. Hal ini mereka nyatakan jauh-jauh hari sebelum para ilmuwan barat menyatakan hal ini. Berkata Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishal fil Milal wan Nihal (2/97) : Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satupun dari ulama kaum muslimin semoga Allah meridlai mereka- yang mengingkari bahwa bumi itu bulat, dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka, bahkan al-Quran dan as-Sunnah telah menguatkan tentang bulatnya bumi.
Hal senada pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan menukil perkataan Imam Abul Husain Ahmad bin Jafar bin Munadi salah seorang ulama Hanabillah yang sangat masyhur di zamannya- berkata : Demikianlah juga para ulama sepakat bahwasanya bumi dengan segala gerakannya, baik di darat maupun di laut itu bulat [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/159] Dan Syaikhul Islam pun menukil adanya ijma para ulama mengenai hal ini dari Imam Ibnu Hazm dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. [Lihat Majmu Fatawa 6/586]
Berkata Imam Ibnu Hazm : Kita katakan kepada orang yang tidak memahami masalah ini : Bukankah Allah mewajikan kepada kita untuk shalat Dzuhur apabila matahari telah bergeser ke arah barat (zawal)? Pasti dia akan menjawab : Ya. Lalu tanyakan kepadanya tentang makna bergesernya matahari ke arah barat, pasti jawabannya adalah bahwa matahari telah berpindah dari tempat pertengahan jarak antara waktu terbitnya dengan waktu tenggelamnya, dan ini terjadi di semua waktu dan semua tempat. Maka orang yang mengatakan bahwa bumi itu datar dan tidak bulat dia harus mengatakan bahwa orang yang tinggal di daerah bumi paling timur harus shalat Dhuhur saat matahari barusan terbit, juga orang yang tinggal di daerah paling barat tidak menjalankan shalat Dhuhur kecuali di pengunjung siang dan ini adalah sesuatu yang sudah keluar dari ketetapan syariat Islam [Lihat Al-Fishal 2/87 dengan diringkas)
Adapun firman Allah. Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan? {Al-Ghasyiyah [88] : 20] Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa bumi itu datar, karena sebuah benda yang bulat kalau semakin besar, maka akan semakin tidak kelihatan bulatnya dan akan nampak seperti datar. [Lihat Hidayatul Hairan Fi Masalatid Daurah oleh Syaikh Abdul karim Al-Humaid hal. 56]
Berkata Syaikh Bin Baz : Keberadaan bumi itu bulat tidak bertentangan dengan bahwa permukaan bumi itu datar yang layak untuk dijadikan tempat tinggal, sebagaimana firman Allah Taala. Artinya : Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan [Al-Baqarah [2] ; 22]
Juga firmanNya. Artinya : Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? [An-Naba [78] : 6-7] Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan ? [Al-Ghasyiyah [88] : 20]
Kesimpulannya, bumi itu bentuknya bulat namun permukaannya datar agar bisa dijadikan tempat tinggal dan dimanfaatkan oleh manusia. Dan saya tidak menemukan dalil naqli dan hissi yang menentang masalah ini [Lihat Al-Adilah An-Naqliyah wal Hissiyah oleh Syaikh Ibnu Baz hal. 103]
LANGITPUN BULAT
Adapun mengenai keberadaan bahwa langit itu bulat, maka ini pun sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama Islam. Berkata Imam Ibnu Katsir : Imam Ibnu Hazm, Ibnul Munadi dan Ibnu Jauzi serta para ulama lainnya telah menukil adanya ijma bahwa langit itu bulat [Lihat Al-bidayah wan Nihayah 1/69 tahqiq DR Abdullah At-Turki, lihat juga Al-Fishal 1/97-100]
Dan ini pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Telah kami jelaskan bahwa langit itu bulat menurut para ulama dari kalangan sahabat dan tabiain, bahkan tidak hanya satu orang ulama yang mana mereka adalah orang paling mengetahui tentang riwayat menyatakan bahwa langit itu bulat, seperti Abul Husain bin Munadi, Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi [Majmu Fatawa 25/195]
Dalil mengenai masalah ini sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah Artinya : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [Yasin [36] : 40] Berkata Hasan Al-Bashri bahwa maksudnya adalah berputar, berkata Ibnu Abbas : Berputar pada falak seperti falkah mighzal Falkah mighzal adalah kayu berbentuk bulat yang digunakan untuk menenun kain. Juga firman Allah. Artinya : Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terjaga [Al-Anbiya : [21] : 32]
Keberadaan langit sebagai atap bumi, sedangkan bumi itu bulat maka langit pun bulat. Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyah : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bhawa Arsy itu seperti kubah, dan ini adalah sebuay isyarat bahwa langit itu bulat”. Kemudian setelah ini, pahamilah wahai saudaraku, bahwa bumi kita ini adalah pusat alam semesta. Dia berada persis di tengah-tengah lingkaran langit. Hal ini adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam beberapa tempat dalam Majmu Fatawa beliau. Beliau berkata : “Bahwasanya bumi terletak di tengah bulatan langit. Yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya semua benda langit itu terlihat dari bumi di segala penjuru langit dalam jarak yang sama, ini semua menunjukkan bahwa jauhnya antara bumi dan langit itu sama dari segala sisi, dan ini dengan tegas menunjukkan bahwa bumi itu terletak persis di tengah-tengah” [Lihat Majmu Fatawa 25/195]
Ilmuan Eropa, Galileo Galilei (1546-1642) mengatakan dengan tegas bahwa bumi berbentuk bulat. Pernyataannya ini oleh otoritas Gereja dianggap  menyimpang sehingga dia harus dihadapkan pada hukuman mati.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebenaran pernyataan Galileo tersebut pun semakin jelas. Belakangan, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa dialah orang pertama yang menemukan teori bulatnya bumi.

Bagaimana Pendapat Ulama Islam?
Sebenarnya jauh-jauh sebelum Galileo, sudah banyak ulama dan ilmuan yang mengatakan bahwa pelanet bumi ini berbentuk bulat.
Lebih jelasnya mari kita lihat beberapa perkataan ulama Islam berikut ini:Ilmuan Islam, Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M / 732H – 808 H): “Ketahuilah, sudah jelas di kitab-kitab para ilmuan dan peneliti tentang alam bahwa bumi berbentuk bumi….” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Kairo).
Ulama Islam, Ibnu Taimiyah (1263-1328 M): “Ketahuilah, bahwa mereka (para ulama) sepakat bahwa bumi berbentuk bulat. Yang ada di bawah bumi hanyalah tengah. Dan paling bawahnya adalah pusat….” (Al-Jawab Ash-Shahih li Man Baddala Din Al-Masih).
Bagi Qazuaini (seorang ilmuan), salah satu bukti bumi berbentuk bulat adalah bintang-bintang dan planet-planet yang berbentuk bulat (Atsar Al-Bilad wa Akhbar Al-Bilad).
Selain mereka, masih banyak ilmuan dan ulama Islam klasik yang menyebutkan di dalam bukunya bahwa bumi berbentuk bulat. Di antara buku tersebut adalah:
1. Muruj Al-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar, oleh Mas’udi Ali Husain Ali bin Husain (w. 346 H).
2. Ahsan Taqasim fi Ma’rifah Al-Aqalim, oleh Al-Maqdisi (w. 375 H)
3. Kitab Shurah Al-Ardh, oleh Ibnu Hauqal
4. Al-Masalik wa Al-Mamalik, oleh Al-Ishthikhry
5. Ruh Al-Ma’ani, oleh Imam Al-Alusi (ulama tafsir Al-Qur’an)
6. Mafatih Al-Ghaib, oleh Fakhru Ar-Razi (ulama tafsir Al-Qur’an)
Dan lain-lain.
Apakah Pendapat Mereka Bertentangan dengan Al-Qur’an?
Tentu saja tidak. Justru Dr. Hadi bin Mar’i dalam bukunya “Mausu’ah Al-Ilmiyah fi I’jaz Al-Qur’anul Karim” (Penerbit Attawfiqiah, Kairo) mengambil dalil bumi berbentuk bulat dari isyarat Al-Qur’an. Demikian juga para ahli tafsir lainnya.  
Ada satu ayat Al-Qur’an lagi yang patut kita perhatikan sebagai tambahan penjelasan masalah ini, inilah jawaban telak tentang tuduhan bumi itu datar menurut Alqur’an:surat Az-Zumar ayat 5
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا
هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ 
“Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun.” (QS.Az-Zumar:5)
Kata “at-takwir” artinya adalah menggulung. Pada ayat di atas dengan jelas Allah berfirman bahwa malam menggulung siang dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu TEMPAT YANG BULAT secara bersama-sama. Bagaimana keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar….? Kalau saja kejadian itu pada tempat yang datar, mestinya akan lebih tepat jika dipakai kata MENIMPA atau MENINDIH.
Dari keterangan ayat di atas juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada permukaan bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam, dan separuh lagi permukaannya adalah siang hari. Hal ini dapat digambarkan dari keterangan ayat, dimana seolah-olah bagian kepala dari sang malam itu menggulung bagian ekor dari sang siang, namun pada saat yang sama bagian kepala dari sang siang sedang menggulung pula bagian ekor dari sang malam. Sebanyak bagian siang yang digulung malam, maka pada saat yang bersamaan, sebanyak itu pula bagian malam yang sedang digulung oleh sang siang. Sekali lagi, keterangan ini menggambarkan bahwa terjadinya hal menakjubkan tersebut di atas bumi, hanya jika permukaan BUMI ITU BULAT adanya…!
Ajaibnya, keterangan-keterangan ini ditulis dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu, disaat orang-orang Eropa dan Amerika masih primitif, dan masih menganggap bumi ini datar serta menganggapnya sebagai pusat bagi jagad raya ini.
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya….
BUMI BERBENTUK SEGI EMPAT DAN DATAR DALAM ALKITAB KRISTEN
Matius 24:31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari KEEMPAT PENJURU BUMI, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain
Markus 13:27 Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari dari KEEMPAT PENJURU BUMI, dari ujung bumi sampai ke ujung langit
Wahyu 7:1. Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada dari KEEMPAT PENJURU BUMI dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon
Wahyu 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada dari KEEMPAT PENJURU BUMI, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut
Matius 12:42 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!
Saudara saudari semua, meski kita naik ke puncak gunung tertinggi di Tibet &  dapat melihat sejauh ribuan mil, tapi tetap lah kita tak dapat melihat seluruh bumi, bagian belakang bumi yg bundar tetap tidak kelihatan. Ini hanya bisa berlaku jika bumi itu datar! Ini ayatnya:
Matius 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi
dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
Lukas 4:5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.
Daniel 4:10 Adapun penglihatan yang kudapat di tempat tidurku itu, demikian: di tengah-tengah bumi ada sebatang pohon yang sangat tinggi;
11 pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi.
Ayat-ayat diatas ini pun bermakna bumi itu datar, bukan bundar, karena mustahil orang dapat melihat pohon setinggi apapun dari bagian belakang bumi yang bundar. Ini cuma berlaku jika bumi datar!
Mungkinkah TUHAN menulis bumi berbentuk segi empat?
Mungkinkah TUHAN keliru?
Mungkinkah TUHAN mengatakan bumi itu datar?
Jelas ini bukan Firman Tuhan!
Masih banyak ayat alkitab yang menyatakan bumi ini datar, bersudut 4, berujung ini masih banyak lagi lainnya:
Matius 12:42, Lukas 11:31, Kisah Rasul 1:8, Kisah Rasul 13:47, Roma 10:18, Yesaya 24:16 , Yesaya 5:26, Amsal 30:4, Amsal 17:24, Mazmur 135:7, Mazmur 98:3 , Mazmur 72:8, Mazmur 67:8, Mazmur 65:9, Mazmur 65:6, Mazmur 61:3, Mazmur 59:14, Mazmur 46:10, Mazmur 22:28, Mazmur 19:5, Mazmur 2:8, Ayub 38:13, Ayub 37:3, Ayub 28:24, Ulangan 33:1, Ulangan 28:6, Ulangan 28:49, Ulangan 13:7.
Silahkan cek sendiri di alkitab, terlalu panjang jika saya harus menuliskan satu persatu! Sekarang silahkan Anda menilai Alqur’an ataukah Bible yang tidak ilmiah?
More about → Menjawab Umkris : Bumi Datar?